BEST OFFER : This space is available for you. For inquiries please email soon to : 165mazri@gmail.com
Showing posts with label greenmotherland. Show all posts
Showing posts with label greenmotherland. Show all posts

Saturday, June 8, 2013

Enam Kota di Sumbar Raih Adipura

HarianHaluan.com - Sabtu, 08 Juni 2013 - Headlines: Sabtu, 08 Juni 2013 01:30 - Prestasi Sumatera Barat pada peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia tahun ini, sangat membanggakan. Enam kota di provinsi ini meraih Adipura dan berbagai penghargaan lainnya di bidang lingkungan hidup.

PADANG, HALUAN — Enam kota di Sumbar berhasil meraih penghargaan bergengsi tropi Adipura tahun 2013, masing-masing Kota Payakumbuh, Kota Solok, Kota Padang Panjang, Kota Painan, Kota Lubuk Si­kaping dan Kota Pariaman. Sementara Kota Padang harus puas membawa pulang serti­fikat Adipura.

Selain itu, Pemprov Sumbar dan Pemkab Pesisir Selatan juga meraih tropi Status Ling­kungan Hidup Daerah (SLHD). Sumbar juga berjaya dengan memperoleh 3 penghargaan Kalpataru, masing-masing kategori Pembina lingkungan diraih Amran Nur (Walikota Sawahlunto), kategori penye­lamat lingkungan diraih Pe­merintahan Nagari Koto Ma­lintang (Agam) dan kategori pengabdi lingkungan diraih Darpius Indra (Pessel).

Seluruh penghargaan ber­geng­si itu akan diserahkan langsung oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono kepada masing-masing kepala daerah dan peraih kalpataru Senin (10/6), pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia di Istana Negara.

Kepala Bapedalda Sumbar, Asrizal Asnan kepada warta­wan Jumat (7/6), di Padang mengatakan, prestasi yang diraih Sumbar pada peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia tahun ini, sangat mem­banggakan, melebihi dari pero­le­han prestasi tahun lalu. Masih ditambah lagi dengan perolehan penghargaan Adiwi­yata Mandiri yang diraih 10 sekolah. Dulu hanya 2 sekolah yang meraih Adiwiyata Mandiri.


“Prestasi yang kita peroleh tahun ini sangat membang­gakan. Hal ini tak terlepas dari komitmen Gubernur Sumbar di bidang pengelolaan lingkungan hidup, yang selalu memacu kepala daerah serta pihak sekolah dalam menjaga dan peduli lingkungan,” kata Asrizal didampingi Kabid PKIL Siti Aisyah dan Afrides.

Dikatakan, penghargaan SLHD diberikan untuk pemerintah daerah yang mampu menyampaikan infor­masi tentang status lingkungan hidup di daerahnya. Pelayanan informasi ini menjadi ukuran bagi kinerja daerah dan sekaligus untuk evaluasi kegiatan pembangunan. Informasi SLHD ini juga digunakan sebagai arah ke­bijakan pem­ba­ngunan daerah.

Selanjutnya perolehan Adipura tahun ini, juga luar biasa. Jika tahun lalu hanya 3 kota yang meraih Adipura maka tahun ini bertambah 3 kota lagi. Hal ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran dae­r­ah dalam menjaga kelestarian lingkungannya. Sebab Adipura tak sekedar simbol kota bersih, tetapi juga mengajak warga peduli dalam proses pemilahan dan daur ulang sampah serta menjaga kualitas air.

Untuk penghargaan Adiwiyata, juga terjadi peningkatan yang signifikan. Adiwiyata Mandiri meru­pakan sekolah Adiwiyata Nasional yang telah melakukan pembinaan minimal 10 calon sekolah Adiwiyata di kabupaten/kota.

Tahun 2012, Adiwiyata Mandiri diraih 2 sekolah. Tahun ini diraih 10 sekolah, masing-masing SDN 06 Aur Tajungkang Tengah Sawah (Bukittinggi), SDN 05 Pauh (Pasa­man), SDSN 20 Indarung (Padang), SDN 01 Pauh Kurai Taji (Kota Pariaman), SDN 17 Aro (Kota Solok), SDN 10 Sungai Sapih (Padang), SMP Semen Padang (Padang), SMAN 6 Padang (Pa­dang), MAN 2 Padang, SMAN 2 Lubuk Basung (Agam).

Sedangkan penghargaan Adiwi­yata Nasional dengan capaian nilai di atas 72, akan diserahkan pada peringatan Hari Cinta Puspa, November mendatang. Sebanyak 39 sekolah telah diusulkan untuk diverifikasi tim pusat pada Septem­ber-Oktober 2013. (h/vie)


sumber berita :
http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=23979:enam-kota-di-sumbar-raih-adipura&catid=1:haluan-padang&Itemid=70


sumber foto :
http://rmbtourcreator.files.wordpress.com/2012/06/2.jpg



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Nazirudin Terima Anugerah Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan

CIPUTRANEWS - Home - Ibu Kota & Daerah - Posted on 08 Jun 2013 - Nazirudin, warga Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menerima anugerah Kalpataru 2013 kategori penyelamatan lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

'Ini prestasi yang luar biasa dalam pelestarian lingkungan,' kata Nazirudin yang juga Wali Nagari Koto Malintang di Lubukbasung, Jumat.

Penghargaan Kalpataru ini akan diserahkan di Istana Negara saat hari lingkungan hidup sedunia pada 10 Juni 2013.

Penghargaan Kalpataru ini, kata dia, diterima atas komitmen menjaga lingkungan dengan cara tidak menebang pohon di hutan di sekitar pemukiman masyarakat.



Apabila masyarakat menebang pohon, maka harus minta surat izin kepada pemilik tanah, ninik mamak, jorong, kerapatan adat nagari dan wali nagari.

Dengan cara itu, pohon di hutan tersebut besar-besar dengan diameter 1 sampai 3,6 meter.

Bupati Agam Indra Catri menambahkan, penghargaan yang ditorehkan Kabupaten Agam di bidang lingkungan ini luar biasa.

Pada hari lingkungan hidup sedunia, Kabupaten Agam mendapatkan dua penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup yakni, anugerah Kalpataru kategori penyelamatan lingkungan dan Adiwiyata Mandiri diraih SMAN 2 Lubukbasung.

Ini berdasarkan surat yang kita terima dari Kementerian Lingkungan Hidup No: B-6519/Dep.VI/LH/PPM/06 2013 untuk Kapaltaru dan surat No: B-65/0/Dp.IV/LH/PPM/06/2013.(ant/rd)



sumber berita :

http://www.ciputranews.com/ibu-kota-daerah/nazirudin-terima-anugerah-kalpataru-kategori-penyelamat-lingkungan


sumber foto :
http://kumpulangambarlogo.blogspot.com/2011/12/logo-kementerian-lingkungan-hidup.html



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Thursday, May 16, 2013

Basko Group Bangun Padang Green City

Haluan Kepri - Andalas - Selasa, 14 May 2013 00:00 - Investasi Rp1 Triliun - PADANG (HK)- Pada tanggal 18 Mei 2013 nanti, pengusaha Minang H Basrizal Koto akan memulai pembangunan Padang Green City di Jalan By Pass, Kelurahan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Perusahaan Basko Group dengan nama PT Graha Jakarta Utama ini, membangun kawasan bisnis terpadu mal dan hotel di areal sekitar 4 hektar, dengan investasi mencapai Rp1 triliun.
“Kami sudah mengonfirmasi, insya Allah peletakan batu pertama pembangunan Padang Green City, akan dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, dan sejumlah tokoh nasional lainnya,” ujar Basko, panggilan akrab Basrizal Koto, saat konfrensi pers di Premier Basko Hotel, Minggu (12/4).

Rencana pembangunan Padang Green City, sudah muncul sejak tahun 2012 lalu. Hasil diskusi, dan masukan dari berbagai tokoh Sumatera Barat, termasuk Walikota Padang H Fauzi Bahar, mendorong Basko untuk mengembangkan mal dan hotel yang sudah ada sekarang, yakni Premier Basko Hotel dan Basko Grand Mall ke kawasan By Pass.



“Atas berbagai dorongan dari tokoh-tokoh Sumbar, akhirnya saya memutuskan akan membangun mal dan hotel, Padang Green City,” tuturnya lagi.

Mengapa ke By Pass? Karena kehadiran Basko Hotel dan Basko Grand Mall di Jalan Prof Hamka, Air Tawar dan sejumlah mal dan hotel di pusat kota, sudah dinilai lebih dari cukup. Dan kalau dipaksakan untuk menambahnya, maka akan menimbulkan berbagai dampak negatif.

Kota bisa menjadi sumpek, kemacetan akan menjadi-jadi, serta menumbuhkan persaingan yang tidak sehat. Selain itu, pengaruh buruknya juga akan dirasakan para pedagang kecil dan menengah. Ruang gerak pelaku ekonomi kecil ini akan menjadi semakin sempit dan terjepit.

“Sebagai putra daerah, sejak mulai investasi di Sumatera Barat 22 tahun lampau, saya tidak pernah berpikir hanya untuk meraih keuntungan semata. Manfaat dan dampak dari setiap unit usaha yang akan dijalankan, selalu kami perhitungkan. Ada atau tidak manfaatnya untuk masyarakat dan daerah ini. Ada atau tidak dampak negatifnya untuk pedagang kecil dan menengah di daerah ini,” imbuh Basko.

Dikatakan, berdasarkan pertimbangan itulah, Basko akhirnya memutuskan pengembangan bisnisnya ke kawasan By Pass. Investasi di daerah pengembangan baru ini, diharapkan bisa menjadi pemicu dan pemacu pembangunan ekonomi masyarakat sekitar.

“Kalau saya mau membangun di pusat kota, saya bisa lakukan dengan mudah. Karena saya punya lahan di Jalan Khatib Sulaiman, Padang. Tapi, itu tidak saya lakukan. Saya justru mencari dan membeli lahan baru di kawasan By Pass,” terang Basko lagi.

Ditambahkannya, Walikota Padang melalui surat bernomor 650.304/Bappeda/XII-2012 tertanggal 27 Desember 2012, menerbitkan Persetujuan Izin Pemanfaatan Ruang (Izin Prinsip) kepada PT Graha Jakarta Utama untuk membangun pusat perbelanjaan, ruang pertemuan, hotel dan pusat rekreasi di lahan hampir 4 hektar itu.

Poin satu dari surat yang ditandatangani langsung Walikota Padang Fauzi Bahar itu, disebutkan bahwa prinsipnya walikota menyetujui rencana pembangunan mal dan hotel itu sejauh ada kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang tahun 2010-2030.

Pada poin 2 huruf g, surat izin prinsip itu juga dicantumkan masa berlakunya yakni satu tahun, terhitung sejak tanggal surat ini. Khusus pada poin 3 surat tersebut, ditegaskan, bahwa Pemko Padang akan membatasi pemberian izin usaha sejenis kepada perusahaan lain selama 10 tahun sejak beroperasinya Padang Green City.

Menyusul Surat Izin Prinsip itu, pada tanggal 3 Mei 2013, keluar Keputusan Walikota Padang Nomor 0352/IMB/UJ/UT.5/KR.05/2013 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk PT Graha Jakarta Utama.

“Sejak keluar IMB itu, kami langsung mempersiapkan untuk memulai pembangunan mal dan hotel di kawasan By Pass itu. Insya Allah, pada tanggal 18 Mei depan, akan dilakukan peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Padang Green City,” tukas Basko.

Pembangunan mal dan hotel di kawasan By Pass itu, akan dilakukan oleh Wijaya Karya (Wika Building), diperkirakan akan memakan waktu selama satu tahun. Targetnya bulan puasa tahun 2014, Padang Green City sudah mulai beroperasi. Kawasan bisnis ini diperkirakan akan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja.

Sejumlah tenan dan mitra ternama sudah menyatakan komitmennya untuk bergabung di pusat perbelanjaan terbesar di Sumatera Barat itu. Antaranya, Lotte Mart, elektronik city, centro, ace ware, dan Cinema XXI. Semuanya tenan-tenan nasional dari Jakarta. (hmg)



source :
http://www.haluankepri.com/andalas/46672-basko-group-bangun-padang-green-city.html



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Thursday, May 9, 2013

Transformasi Fungsi dan Makna Hutan Siberut

niadilova.blogdetik.com - Suryadi - Opleiding Talen en Culturen van Zuid-en Zuidoost-Azië, Universiteit Leiden - Resensi Buku - Mei 07 - TRANSFORMASI FUNGSI DAN MAKNA HUTAN SIBERUT - Published By niadilova under Resensi Buku - Judul buku : Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi

Penulis : Darmanto dan Abidah B. Setyowati

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia dan UNESCO

Cetakan : 1, Oktober 2012

Tebal : xxxvi + 458 halaman

Peresensi : Suryadi, Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Leiden, Belanda

Dalam wacana keindonesiaan kita yang hiruk-pikuk oleh euforia politik perkotaan, berita mengenai korupsi, pertelingkahan antara berbagai ’sekte’ agama dalam mengklaim siapa di antara mereka yang paling tahu tentang Tuhan dan yang paling berhak menjadi ahli sorga di akhirat nanti, dan mental xenosentrik yang sudah mewabah dalam semua lapisan sosial masyarakat, nama Siberut mungkin berada di tempat marginal.

Fenomena ini tidaklah aneh, mengingat negara sendiri cenderung mengembangkan pola pembangunan bangsa yang lebih memperhatikan pusat dan oleh karenanya sering mengabaikan wilayah-wilayah pinggiran seperti Siberut, walau sebenarnya dari segi sumber daya alam kontribusi wilayah-wilayah pinggiran itu sangatlah besar.


Berebut Hutan Siberut mungkin dapat mengingatkan kita kembali kepada pulau luar di lepas pantai barat Sumatera yang lebih dikenal oleh para penantang ombak besar dari mancanegara itu. Buku ini merupakan rekaman dinamika sosial masyarakat adat di Pulau Siberut sejak 50 tahun terakhir. Dalam 10 bab buku ini, kedua penulis, yang merupakan aktifis lingkungan yang lama bekerja di Siberut, menggambarkan secara kronologis ’sejarah akses dan kontrol [terhadap] hutan siberut’ (h.23).

Bab 1 memaparkan posisi teoretis buku ini yang berangkat dari perspektif politik ekologi dengan orientasi untuk mengidentifikasi pentingnya peran institusi dan relasi sosial dalam dinamika sosial politik dan ekonomi yang menyangkut pengelolaan sumber daya alam (h.19). Selanjutnya, dalam Bab 2 penulis mendeskripsikan kondisi geografis dan geologi Pulau Siberut serta penduduknya yang rupanya bukanlah sebuah entitas tunggal. Bab 3 menjelaskan hubungan orang Siberut dengan alam lingkungannya, khususnya hutan, sebelum datangnya intervensi politik, ekonomi, dan budaya dari orang-orang ‘tanah tepi’ (istilah orang Mentawai untuk penduduk Sumatera) pada dekade 1970-an.

Bab 4 memaparkan hutan Siberut dalam incaran ‘kekuasaan dari luar’. Tahun 1970-an Rezim Orde Baru mulai memberikan konsesi kepada kapitalis kota untuk menggarap hutan-hutan Pulau Siberut. Siberut kemudian menjadi salah satu pulau terluar Indonesia yang menjadi target garapan kelompok penguasa yang berkolaborasi dengan pengusaha dan para pemburu uang dari ‘tanah tepi’, baik mereka yang berkuasa di Padang maupun di Jakarta.

Seperti sudah sama kita ketahui, pemberian konsesi itu menimbulkan dampak sosial dan ekologis: ekosistem pulau Siberut terancam rusak. Tekanan-tekanan dari kalangan akademisi, LSM (nasional dan internasional) serta berbagai pihak lainnya yang peduli pada kelestarian ekologi dan budaya masyarakat adat di Siberut telah memaksa pemerintah menghentikan konsesi penebangan hutan di Siberut pada 1993. Namun, setelah Orde Baru jatuh beberapa pengusaha dari Padang dan Jakarta mendapat konsesi lagi untuk mengekploitasi hutan Siberut. Kali ini, sebagai efek dari regionalisasi politik zaman Reformasi, izin-izin pengekploitasian hutan Siberut itu dikeluarkan oleh Bupati. Dalam bab ini pula didekripsikan interaksi orang Siberut dengan pasar produk hutan global.

Silang pendapat di antara berbagai unsur pemerintahan dan intelektual terhadap ekploitasi hutan Siberut didisekrisikan dalam Bab 5. Pada titik ini muncullah gerakan konservasi yang wacananya kemudian meluas ke tingkat nasional dan internasional. Berbagai LSM dalam negeri menjadikan isu Siberut sebagai proyek mereka. Begitu juga beberapa organisasi internasional seperti WWF dan UNESCO. Upaya-upaya konservasi difokuskan pada dua aspek: menjaga kekayaan spesies endemik kepulauan Mentawai dan menjaga keaslian kebudayaan penduduk aslinya.

Bab 6 menjelaskan munculnya kesadaran kolektif baru penduduk asli Siberut. Kedua penulis berpendapat bahwa munculnya kesadaran identitas baru itu dipantik oleh intervensi orang luar tadi (baik dalam artian privat maupun negara). Gerakan-gerakan ini didampingi oleh berbagai LSM. Regionalisme politik yang terjadi di Indonesia menyusul jatuhnya Rezim Orde Baru telah memunculkan isu-isu yang lebih santer mengenai hak-hak masyarakat adat yang bersambut dengan kemunculan wacana indigenous people di tingkat global di mana banyak organisasi-organisasi non pemerintah yang memperjuangkan hak-hak masyarakat lokal yang terpinggirkan oleh kekuasaan negara, modernisasi, dan intervensi kapitalisme global.

Bab 7 menguji asumsi-asumsi kebijakan desentralisasi melalui analisa tentang tatakelola hutan di Siberut setelah terbentuknya Kabupaten Kepulauan Mentawai pada tahun 1999. Penulis menggambarkan percaturan antar berbagai pihak dalam konteks politik lokal dalam memanfaatkan hutan untuk ‘pembangunan’ masyarakat. Bersamaan dengan itu transformasi identitas tanah bagi orang Mentawai sendiri tentu terus berlanjut, seiring dengan makin dalamnya penetrasi negara, misalnya melalui kebijakan-kebijakan agraria dan lain sebagainya.

Bab 8 memaparkan gerakan-gerakan masyarakat lokal di Siberut dalam menuntut klaim kepemilikan atas hutan dan tanah. Penulis mengatakan bahwa dalam konteks ini orang Siberut menggunakan wacana adat. Dalam memperjuangkan tuntutan ini mereka juga bekerjasama dengan aktivis-aktivis pendamping dari luar, baik yang berasal dari LSM maupun organisasi-organisasi lainnya. Namun kurang jelas bagaimana fungsi tradisi lisan (oral tradition) dalam konteks ini, terutama tentang cerita-cerita keluarga milik kelompok-kelompok kekerabatan (kin groups) di Siberut dalam menentukan klaim-klaim mereka terhadap kepemilikan tanah. Juniator Tulius dalam disertasinya, Family Stories: Oral Tradition, Memories of the Past, and Contemporary Conflict over Land in Mentawai - Indonesia (Leiden University, 2012), menunjukkan pentingnya cerita-cerita keluarga tersebut dalam menentukan klaim atas tanah/hutan di kalangan kelompok-kelompok kekerabatan penduduk asli Kepulauan Mentawai, dan rupanya cerita-cerita itu juga berperan penting dalam penyelesaian konflik-konflik yang menyangkut klaim atas tanah di antara kelompok-kelompok kekerabatan itu sendiri.

Dinamika internal di kalangan penduduk Siberut sendiri dalam menyikapi berbagai wacana (ekonomi, politik, kekuasaan) mengenai hutan dibahas dalam Bab 9. Penulis menggambarkan agenda-agenda lokal yang menonjol seputar isu ini dan resistensi terhadap komponen-komponen dari luar yang ditunjukkan oleh masyarakat Siberut sendiri. Bab penutup (10) menarasikan hubungan hutan dan kekuasaan. Bab ini menyimpulkan bentuk-bentuk reaksi orang Siberut dalam menghadapi jaringan kekuasaan dari luar.

Buku ini merupakan satu satu karya penting mengenai sejarah politik ekologi mengenai Kepulauan Mentawai, bahkan mungkin yang terlengkap untuk studi mengenai dinamika pulau-pulau terluar Indonesia. Melaluinya kita dapat melihat cara pandang dan cara tindak bangsa Indonesia terhadap tanah airnya sendiri. Harus diakui bahwa kesadaran kita sebagai bangsa untuk memelihara alam tanah air ini masih sangat rendah. Orang-orang pintar di kota justru menjadi perusak paling hebat. Mereka, yang hanya memikirkan uang, sesungguhnya lebih bodoh dari masyarakat lokal.

Selain menggambarkan kompleksitas dinamika penduduk Siberut dalam rangka survival for the fittest di era global ini, buku ini setidaknya memberi pesan: bumi Indonesia yang makin bopeng-bopeng ini, Siberut khususnya, harus segera diselamatkan sebelum semuanya menjadi terlambat.

* Resensi ini dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu, 5 Mei 2013

source :
http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/1106



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Friday, May 3, 2013

Mentawai Islands Regent Mr. Yudas Sabbagalet Officially Closes Mentawai Pro Presented by Rip Curl

asiansurfingtour.com - NEWS - 30 April 2013 - 28 April 2013, Katiet-Mentawai Islands: In a late afternoon ceremony today in the village of Katiet on Sipora Island in the Mentawai Islands of West Sumatra, after several speeches and trophy presentations, Regent Yudas Sabbagalet sounded the drum to officially announce the end of the Mentawai Pro presented by Rip Curl Asian Surfing Championship Premium grade international surfing competition that started on April 21st.

First to take the microphone was the Head of the Department of Culture, Tourism and Sport for the Mentawai Islands Mrs. Desti Seminora, who generously thanked the local people and listed all the sponsors who had supported the event. She told the audience how proud she was of her staff and all involved who had been working hard to make this event such a success, as it was now a premium international event after only the third year.


Jeff Anderson, Rip Curl’s CEO of South East Asia was next to address the crowd, and in fluent Indonesian thanked the local people for their hospitality in sharing their great waves and wonderful beach, and thanked Regent Sabbagalet and Mrs. Seminora for letting Rip Curl join with them for the second year running.

Tipi Jabrik, President of the ASC, in his speech reviewed the progress that has been made since Mrs. Seminora contacted him over three years ago to help create the first Lance’s Right competition in 2011 and congratulated her and her staff for the great job. He also thanked the Katiet locals for their hospitality. He then asked them to please take care of their beautiful beach and coral reefs, and not to let anyone bomb the reefs for fishing or do anything to destroy their great natural resource.

Lizzie Murray from A Liquid Future took the microphone next to express her thanks for the support from Rip Curl and the government for her NGO that is teaching the local kids how to speak English, about water safety, and of course how to surf.

Mentawai Pro presented by Rip Curl winner Oney Anwar from Sumbawa was asked to come up and say a few words, and he did…telling the audience how happy he was to have won the event and how he had enjoyed his stay at Katiet.

Next was the presentations of the trophies to the winners, but first 16 year old Harry Bryant from Australia was called to the stage and given a local backpack by the town chief, something personal young Harry could take back to his country and share with his friends and family.

The trophy presentations followed, with first the local trials winner Marvius and the other finalists being awarded Mentawai boatman’s paddles and some cash money as prizes, and then the main event winners receiving theirs as well.

After thanking Rip Curl, the ASC, Mrs. Desti, and the local village support crew, the Bupati (Regent) of the Mentawai Islands Mr. Yudus Sabbagalet had a special message for the local surfers in his closing speech. He strongly encouraged them to keep practicing and believing in themselves, saying “You can see who won this contest, and he is an Indonesian just like you…so is there a reason why you can’t win? I think not…so just remember to keep trying and soon it will be you on the podium!”

Then with the final pounding of the drum he closed the event, and though it may be over for this year the effects will be felt far into the future…in its positive impact on the local community, tourism in the Mentawais, and in the Asian as well as the worldwide surfing communities.

The Mentawai Pro presented by Rip Curl is sponsored by the Government of West Sumatra, the Tourism Department of the Mentawai Islands, Tourism Indonesia, Andalas Internet, Indies Explorer, Quest 1, and Losman Ombak, with media support by Magicseaweed.com, Indosurflife.com, Surftime Magazine, Juice, and Lines Magazine.



Mentawai Pro presented by Rip Curl ASC Premium Men’s Open Results:

1. Oney Anwar (Sumbawa, Indonesia) – Rp. 25 million (approx. $2,500 USD)

2. Garut Widiarta (Bali, Indonesia) - Rp. 15 million (approx. $1,500 USD)

Equal 3rd: Tipi Jabrik (Bali, Indonesia) and Gazali Hamzah (Sumbawa, Indonesia) – Rp. 8 million (approx. $800 USD)





Mentawai Pro presented by Rip Curl Trial Results:

1. Marvius (Katiet)

2. Dodi (Siberut)

3. Henri (Siberut)

4. Arjomen (Katiet)



Media Contacts:



Asian Surfing Championships

Tim Hain – Media and Communications

Mobile: +62(0)8123606674

Email: tim.hain@asiansurfingtour.com



Rip Curl Indonesia

Ivona Puspita – Public Relations

Mobile: +628179723980

Email: ivona@ripcurl.co.id





About the ASC

The Asian Surfing Championships began in 2011 with the mission of growing the sport of surfing in South East Asia from the grassroots level by assisting each country in organizing professional surfing events that will develop the skills of their surfers in healthy competition as well as to draw attention to their area for the progression of surfing locally, nationally, and throughout the SEA area.

Organized surfing competitions have historically been the best medium for the development of surfers and for the sport of surfing, where learning how to compete fairly and to being disciplined in training and competition are key skills needed not only for surfing but also for life.

The ASC works with the local, national and multinational event sponsors and organizers to maximize the results of these competitive surfing events towards accomplishing the goals of sharing the sport of surfing and bringing positive economic, social, and environmental benefits to the people in these South East Asian countries. See more at http://www.asiansurfingtour.com


source :




(odi/flo)



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Top Stories

Supported by

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
FOR RENT : This running text is ready for rent. For inquiries please email soon to : reservation@rockyplazahotelpadang.com or 165mazri@gmail.com