BEST OFFER : This space is available for you. For inquiries please email soon to : 165mazri@gmail.com
Showing posts with label Sijunjuang. Show all posts
Showing posts with label Sijunjuang. Show all posts

Thursday, June 27, 2013

Penerimaan CPNS Calon Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Tahun Ajaran 2013/2014

PENERIMAAN CPNS CALON PRAJA INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI (IPDN) TAHUN AJARAN 2013/2014

PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA BARAT

SEKRETARIAT DAERAH
Jalan Jenderal Sudirman No. 51 Telepon (0751)31401-31402-34425 Padang
http://www.sumbarprov.go.id/ biro_humas@sumbarprov.go.id

PENGUMUMAN
NOMOR : 892/3248/BKD/IV-2013
TENTANG
PENERIMAAN CPNS CALON PRAJA
INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI (IPDN)
TAHUN AJARAN 2013/2014

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 892.1/3212/SJ Tanggal20Juni 2013, tentang Penerimaan CPNS Calon Praja (Capra) IPDN Tahun Ajaran 2013/2014, maka Pemerintah Provinsi Sumatera Barat membuka kesempatan kepada Putera dan Puteri Warga Negara Republik Indonesia untuk mengikuti seleksi Pendidikan Pamong Praja pada Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), dengan ketentuan sebagai berikut :



PERSYARATAN PELAMAR/CALON PESERTA SELEKSI:

1. Warga Negara Republik Indonesia.

2. Usia pelamar/peserta seleksi per tanggal 1 Desember 2013 :

a) Pelamar umum berusia minimal 16 (enam belas) tahun dan maksimal 21 (dua puluh satu) tahun,

b) Pelamar PNS Tugas Belajar berusia maksimal 24 tahun dan mempunyai masa kerja menjadi PNS minimal 2 (dua) tahun.

3. Tahun Ijazah/Surat Tanda Tamat belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (MA) pendaftar, yaitu tahun 2011, 2012 dan 2013 bagi pelamar umum.

4. Syarat usia sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf a dan syarat kelulusan tahun Ijazah/STTBsebagaimana dimaksud pada angka 3 harus terpenuhi seluruhnya.

5. Nilai rata-rata Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) minimal 7,00 (tujuh koma nol nol).

6. Tinggi badan peserta seleksi pria minimal 160 cm dan wanita minimal 155 cm.

7. Tidak bertato atau bekas tato dan bagi peserta seleksi pria tidak ditindik atau bekas ditindik telinganya atau anggota badan lainnya kecuali karena ketentuan adat/agama.

8. Tidak menggunakan kacamata/lensa kontak sesuai dengan unsur pemeriksaan kesehatan.

9. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian Tingkat Kabupaten/Kota (Polres/Poltabes)

10. Surat Keterangan berbadan Sehat dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)/Rumah Sakit TNI/Rumah Sakit Polri/Puskesmas Pemerintah setempat.

11. Surat Pernyataan belum menikah/kawin, hamil/melahirkan dan sanggup tidak menikah/ kawin selama mengikuti pendidikan yang diketahui orang tua/wali dan disahkan Kepala Desa/Lurah setempat, yang dinyatakan secara tertulis, ditandatangani diatas materai Rp.6.000,-.

12. Surat pernyataan bersedia mentaati Peraturan Kehidupan Praja dan bersedia mengembalikan seluruh biaya pendidikan yang telah dikeluarkan pemerintah dikarenakan mengundurkan diri, diberhentikan dan/atau melanggar peraturan pendidikan, diketahui oleh orang tua/wali yang dinyatakan secara tertulis, ditandatangani di atas materai Rp. 6.000,-.

13. Surat Pernyataan siap diberhentikan tanpa menuntut dimuka pengadilan melalui PTUN jika melakukan tindakan kriminal, mengkonsumsi maupun menjual belikan narkoba, melakukan perkelahian, pemukulan dan pengeroyokan, dan melakukan tindakan asusila, berdampak hukum atau tidak, yang dinyatakan secara tertulis dan ditandatangani diatas materai Rp. 6.000,-.



PERSYARATAN LAINNYA

1. Fotocopy Ijazah/Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.

2. Pasphoto berwarna menghadap kedepan dan tidak memakai kacamata, dengan ukuran 3 x 4 cm, sebanyak 4 (empat) lembar, dan 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar, latar belakang merah.

3. Menyerahkan berbagai surat pernyataan yang telah ditentukan.

4. Syarat pendaftaran disusun rapi dan dimasukan kedalam stofmap berwarna biru bagi pelamar pria dan stofmap berwarna merah bagi pelamar wanita.



TEMPAT DAN WAKTU PENDAFTARAN

1. Tempat pendaftaran :

Pendaftaran dilakukan oleh peserta seleksi CPNS Calon Praja IPDN di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat.

2. Waktu pendaftaran :

Pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 1 Juli 2013 sampai dengan tanggal 13 Juli 2013.



TAHAPAN SELEKSI

1. Seleksi dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :

a. Seleksi administrasi oleh Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota.

b. Tes Kompetensi Dasar (TKD) dilaksanakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kementerian Dalam Negeri serta Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia.

c. Tes Kesehatan dan Tes Kesamaptaan/Jasmani.

d. Tes Psikologi oleh Dinas Psikologi TNI Angkatan Darat dan Tes Integritas dan Kejujuran oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

e. Penentuan akhir dilaksanakan oleh Panitia Penentuan Akhir yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

f. Seleksi penerimaan CPNS Calon Praja IPDNdilakukan dengan SISTEM GUGUR, yaitu para peserta dapat mengikuti tahap seleksi selanjutnya apabila dinyatakan lulus/memenuhi syarat pada tahap sebelumnya.

2. Materi Tes Kompetensi Dasar (TKD) terdiri dari :Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Intelegensi Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).



LAIN-LAIN

1. Apabila terdapat pihak/oknum yang menawarkan jasa dengan menjanjikan untuk dapat diterima menjadi CPNS Capra IPDN dengan meminta imbalan tertentu, maka perbuatan tersebut adalah penipuan. Panitia tidak bertanggungjawab atas perbuatan pihak/oknum tersebut.

2. Setiap tahapan dalam seleksi penerimaan CPNS Capra IPDN Tahun Ajaran 2013/2014 dibawah pengawasan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).



PEMBIAYAAN
Biaya Tes Kesehatan, Tes Kesamaptaan/Jasmani, Tes Psikologidan biaya lainnya untuk kebutuhan peserta selama mengikuti tahapan tes dibebankan kepada Calon Peserta.

Demikian pengumuman ini untuk dapat dimaklumi.

Dikeluarkan : di Padang
Pada Tanggal : 26 juni 2013

a.n GUBERNUR SUMATERA BARAT
SEKRETARIAT DAERAH

Dr. H. ALI ASMAR M.Pd
Pembina Utama Madya
NIP 19580705 197903 1 004

Written by Badan Kepegawaian Daerah | Thursday, 27 June 2013 09:48, just click to :

http://sumbarprov.go.id/read/99/12/14/59/190-teras-sumbar/pengumuman/824-penerimaan-cpns-calon-praja-institut-pemerintahan-dalam-negeri-ipdn-tahun-ajaran-2013-2014.html






Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Tuesday, June 4, 2013

Tour De Singkarak 2013

Indonesia's Official Tourism Website - 2 Jun 2013 - 9 Jun 2013 - From 2nd to 9th June 2013, the Tour de Singkarak 2013 will take some of the world’s renowned cyclists over a 1000-kilometer route traversing the most scenic landscapes of West Sumatra’s countryside, see the cultural beauty and meet the people of Sumatra. The race covers 7 stages, building on the success of previous races.


The past years have seen an annual increase in participating regencies, and the race has therefore become a longer challenge with each year. While in 2012 the course covered 800 kilometers, this year the 7 staged race will cover a total distance of 1,027 kilometers.


The stages of Tour de Singkarak 2013 are as follows:
1. Stage 1: Bukittingi-Bonjol (105 Km)
2. Stage 2: Payakumbuh- Lake Singkarak (125 Km)
3. Stage 3: Padang Panjang-Istana Basa (204 Km)
4. Stage 4: Sijunjung-Pulau Punjung (165 Km)
5. Stage 5: Sawahlunto-Muara Labuh 138 Km
6. Stage 6: Pariaman-Painan (145 Km)
7. Stage 7: Padang Pariaman-Padang (145 Km)


The race is held in co-operation with ASO (Organizer of Tour de France), marking significant international recognition and increasing its international importance. Tour de Singkarak itself is listed as an annual event on the agenda of the International Cycling Association or Union Cycliste Internationale (UCI).


Combining sports and tourism, the Tour De Singkarak 2013 takes participants to an exciting adventure through the vast mountainous countryside of West Sumatra. The tour will not only offer fierce competition among racers, but it is, moreover, an excellent chance to unveil all the hidden wonders of West Sumatra.


Last year's participants were not only impressed with the lush green scenery, but they were also most taken by the warmth and friendliness of the people who welcomed and cheered for them at every stage.


There are direct international flights to Padang from Singapore and Kuala Lumpur in Malaysia and regular domestic flights from Jakarta, Medan and Batam to the Minangkabau International Airport in Padang.



More Information available at: http://tourdesingkarak.com/



Photo courtesy of http://tourdesingkarak.com/



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Thursday, May 16, 2013

Pebalap Dunia Jajal 1.200 Km, Kemenparekraf Luncurkan TdS 2013

Padang Ekspres • Senin, 13/05/2013 10:52 WIB • Redaksi • NASIONAL - Jakarta, Padek—Inisiatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) meluncurkan Tour de Singkarak (TdS) 2-9 Juni 2013, dengan acara Fun Bike di silang Mo­numen Nasional (Monas) Jakarta, Minggu (12/5) pagi, menjadikan Monas “di­kua­sai” nuansa serba Suma­tera Barat.

Hal tersebut dikatakan Menpa­rekraf Mari Elka Pangestu saat laun­ching TdS 2013, di silang Monas Jakarta, Minggu (12/5).

Hadir tokoh Minang yang juga Ketua DPD RI Irman Gusman, Wa­men Parekraf Sapta Nirwandar, Wa­mendikbud Musliar Kasim, Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim dan Wali Kota Padang Fauzi Bahar serta wali kota dan bupati yang daerahnya bakal dilintasi pebalap TdS.


“Monas diduduki orang Minang­kabau. Semua kepala daerah yang tadi bernyanyi dengan tulus dan bangga menggunakan bahasa Minang. Itulah Indonesia. Tapi hari ini Monas berlim­pah-ruah dikunjungi masyarakat dan itu bernuansa serba Sumatera Barat,” kata Mari Elka Pangestu, di hadapan ribuan massa yang memadati silang Monas Jakarta.

Nuansa yang serba Minang ini, lanjut Mari, jarang terjadi di Jakarta. Kemarin (12/5), siapa pun pengunjung Monas bisa menyaksikan keindahan alam Sumbar melalui layar lebar atau menyaksikan lagu Minang yang dilan­tunkan oleh sejumlah artis asal Sum­bar. Dijelaskannya, acara TdS tidak saja menjadi salah satu ikon Sumbar, tapi sudah menjadi ikon Indonesia dalam mempromosi wisata ke dunia. “Iven TdS yang merupakan perpaduan olahraga dan promosi pariwisata tidak saja untuk Sumbar, tapi juga berdam­pak terhadap Indonesia. Untuk itu, kita harus terus menyukseskan agenda ini,” kata Mari Eka Pangestu.

Sejak TdS diadakan, mantan Men­teri Perdagangan itu mengatakan, tingkat kunjungan ke Sumbar naik sekitar 10 hingga 12 persen tiap tahun. Tidak itu saja, TdS juga mampu “me­mak­sa” Pemerintah memperbaiki jalan tiap tahun.

Ketua DPD Irman Gusman menga­takan, Monas Minggu pagi dikuasai penuh oleh Sumbar. Tidak saja karena alunan musik Minang yang terus terdengar, tapi juga karena seni tari perpaduan tradisional, modern mam­pu mencuri perhatian pengunjung. “Tahun 2014 nanti, saya akan menyam­paikan kepada Presiden SBY untuk membuka langsung TdS di Sumbar,” janji Irman.

Ditegaskannya, pascagempa 2009, TdS terbukti memiliki peran dalam memulihkan pariwisata, ekonomi dan infrastruktur di Sumbar. Bahkan, pe­rusahaan multinasional Lippo Group, yang sudah menetapkan berinvestasi sebesar Rp 10 triliun di Padang, me­nurut Irman ada kaitannya dengan kesuksesan TdS. Irman berharap semua stakeholders di Sumbar bisa menjadi tuan rumah yang baik.

Wagub Sumbar Muslim Kasim menambahkan, TdS punya andil cukup besar membuka akses Sumbar ke dunia luar. “Ditambah lagi tahun ini TdS akan melewati 17 kabupaten/kota, tinggal dua daerah yang belum dilewati, yakni Pasaman Barat dan Mentawai,” ungkap Muslim Kasim.

TdS Tempuh 1.200 KM

TdS kali ini akan jauh lebih menan­tang bagi para pebalap. Menempuh jarak 1.200 km, para pebalap akan berpacu memperebutkan total hadiah Rp 1,2 miliar atau naik dari tahun lalu Rp 750 juta.

Menariknya, selain Kelok 44 yang menjadi mountain of challange, tahun ini juga ada Kelok 9.

Tantangan ini akan ditemui para rider di etape ketiga, Payakumbuh-Singkarak melalui Kelok 9. “TdS tahun ini akan benar-benar memberikan tantangan besar bagi para pebalap yang terdiri dari 23 tim, 17 tim man­canegara dan 6 dalam negeri. Tim mancanegara itu berasal dari 18 negara,” ujar Sapta Nirwandar.

Ke-18 negara tersebut adalah Indonesia, Kanada, Australia, Brunei Da­russalam, Iran, Irlandia, Jepang, Tai­wan, Kazakhstan, Malaysia, Mo­ngo­lia, Belanda, Filipina, Thailand, Amerika, Singapura, Spanyol, dan Uzbekistan.

Kasubdit Promosi Wilayah Suma­tera, Raseno Arya mengatakan, etape I Bukittinggi-Bonjol (Pasaman). Etape kedua Padangpanjang-Batusangkar melalui Lembah Anai dan Kelok 44. Seterusnya etape ketiga, Payakumbuh-Danau Singkarak via Kelok 9, etape keempat, Sijunjung-Dharmasraya. Kemudian etape kelima, Sawahlunto-Solok Selatan, etape keenam, Paria­man-Painan, dan terakhir Padang­pariaman-Padang. (fas)


source :

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=43571



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Saturday, December 8, 2012

Romusha dari Sijunjung : Tragedi Sejarah yang Terlupakan

Dalam kurun masa seumur jagung menduduki wilayah Indonesia, tentara Jepang menorehkan sejarah hitam tentang kekejaman. Puluhan ribu rakyat dijadikan romusha dan dikirim ke kamp-kamp kerja paksa. Puluhan ribu warga dari Pulau Jawa dikirim ke Sumatera Barat untuk menerabas hutan dalam pembangunan jalur kereta api dari Muaro Sijunjung ke Pekanbaru. Entah berapa ribu romusha yang tewas di sana. Yang cukup menyedihkan, banyak warga yang paham tragedi bangsa yang tak kalah dibandingkan kisah romusha di jalur kereta api Burma-Thailand. Dengan langkah pelan dan agak tertatih, lelaki gaek itu datang mendekat. Senyum terus mengembang dari bibirnya yang tipis dan dipenuhi kerut. Dari raut wajahnya, tampak jelas bahwa ia bukanlah warga asli daerah ini. Paling banter, ia pendatang yang sudah lama tinggal di Jorong Silukah, Kecamatan Durian Gadang, yang masuk wilayah Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Benar saja. Ketika dikorek, ia mengaku berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah. Tepatnya dari Desa Somogede, Kecamatan Wadaslintang. Sudah hampir 70 tahun ia tinggal di Silukah dan beranak-cucu di desa itu. Matanya yang bulat kecil pun tampak berbinar begitu diberitahu bahwa kami datang dari Jawa. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil terus menebar senyum. Suratman, kakek yang kini berusia hampir 87 tahun itu, bukanlah bekas pekerja tambang batu bara yang memang banyak didatangkan dari Pulau Jawa pada masa penjajahan Belanda. Ia eks romusha yang masih hidup di kawasan Durian Gadang. Ia termasuk sedikit orang yang menjadi saksi kejamnya kerja paksa pada masa singkat penjajahan Jepang. Ia seorang dari puluhan ribu romusha yang bekerja membangun jalur kereta api dari Muaro Sijunjung hingga ke Pekanbaru. Walau telah banyak lupa tentang detail berbagai peristiwa itu, Suratman masih bisa menuturkan garis besar pengalaman teramat pahit yang dialaminya sebagai romusha. Alkisah, sewaktu berumur 18 tahun, ia direkrut tentara Jepang dari desanya. "Janjinya, saya akan disekolahkan," katanya mengenang kejadian sekitar tahun 1943 itu. Sekolah? Tentu saja menarik hatinya, lantaran ia memang ingin sekali mengenyam pendidikan. Bersama seorang kawannya bernama Dullah --berusia dua tahun lebih muda-- ia meninggalkan desa dan pekerjaannya sebagai petani. Suratman dan Dullah diangkut ke Ambarawa bersama rombongan dari desa-desa lainnya. Dari Ambarawa, mereka diangkut dengan kereta api ke Jakarta. Janji untuk bersekolah ternyata cuma bujuk rayu tentara Jepang. Sesampai di Jakarta, Suratman dan rombongan dari Ambarawa langsung digiring ke Pelabuhan Tanjung Priok. Di sana, mereka bergabung dengan ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa yang siap diberangkatkan dengan kapal laut. Tujuannya: Sumatera. Mereka ternyata akan dipekerjakan sebagai romusha. Suratman kemudian tidak tahu lagi nasib Dullah karena mereka terpisah. "Mungkin dia sudah lama meninggal," katanya. Tragedi di Ngalau Cigak Setelah lebih-kurang 20 hari berlayar di bawah pengawasan ketat tentara kolonial Jepang, sampailah rombongan itu di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Tak berhenti sampai di situ. Penumpang asal Jawa ini lalu dibagi lagi dalam kelompok-kelompok. Sebagian dinaikkan ke kereta api yang membawa mereka ke Muaro Sijunjung. Suratman masuk dalam kelompok ini. Di Muaro, ia lalu disatukan dengan ribuan orang yang dikerahkan untuk membangun jalur rel kereta api di ruas Silokek sampai Silukah. Mereka dipaksa menerabas hutan dan mengikis bukit cadas berbekal alat seadanya. Adakalanya tentara Jepang menggunakan dinamit untuk menghancurkan bukit yang akan diratakan. Cara itu banyak pula makan korban. "Kami bekerja siang-malam, seperti tak kenal waktu. Belum ada jalan untuk sampai ke sini," katanya. Suratman menuturkan pengalaman mengerikan yang masih melekat di benaknya hingga kini. Pada waktu itu, mereka sudah bekerja sampai ke sebuah tebing terjal di kawasan bernama Ngalau Cigak. Pada suatu malam, selagi ratusan orang masih bekerja di kaki tebing, tiba-tiba ia mendengar ledakan dinamit yang berasal dari atas. Hanya dalam hitungan detik, tebing di atas mereka runtuh. Suratman berhasil menyelamatkan diri, sedangkan banyak sekali romusha lain yang tak sempat menghindar. Mereka tertimpa reruntuhan tebing. Di malam buta itu, ia hanya dapat mendengar teriakan dan rintihan memilukan rekannya senasib sepenanggungan. Keesokan paginya, ia menyaksikan mayat berserakan. Sebagian ada yang tewas tertimpa pohon. Bau anyir mayat merebak di sana-sini. Sebagian korban ledakan ada yang dikubur, sebagian lagi dihanyutkan begitu saja ke Sungai Kuantan yang merentang di dekat lokasi tersebut. "Bau bangkainya tidak hilang sampai dua bulan," katanya. Sorot mata kakek renta itu pun berubah menunjukkan perasaan ngeri. Selama lebih-kurang dua tahun menjadi romusha, hanya satu tahun ia dipekerjakan di jalur menuju Silukah. Ia sempat mengenyam pengalaman yang sama getir dan mengerikan di kawasan Lipat Kain, yang masuk wilayah Riau. Selama menjalani kerja paksa, menurut dia, para romusha hanya diberi makan seadanya: sekepalan nasi dengan garam. Pakaian yang mereka kenakan pun hanya karung goni yang dibentuk untuk menutupi badan dan torok --sebutan warga setempat untuk kulit kayu. Kalau sakit, pilihannya hanya dua: mencari obat sendiri dari tumbuhan yang ada atau mati. "Kami tidak boleh saling menolong. Kalau ketahuan, bisa-bisa mendapat hukuman pukulan atau tidak dikasih makan oleh tentara Jepang," tuturnya. Sekitar setahun setelah Jepang menyerah, Suratman kembali ke Silukah untuk menata kehidupan baru menjadi petani seperti dilakoninya di Jawa dulu. Di Silukah ini pula, kemudian ia menikah dengan perempuan bernama Sinem, warga asli Jorong. Kisah Romusha Pelarian Dalam kondisi seperti itu, masuk akal bila banyak romusha yang berusaha kabur. Tapi risikonya harus kehilangan nyawa bila ketahuan. Di antara mereka yang berani mengambil risiko itu dan selamat setelah kabur adalah Turijan. Romusha ini pernah mengerjakan jalur kereta api yang sama yang digarap dari arah Pekanbaru. Pekerja paksa asal Jawa itu ditempatkan sebagai pekerja di sekitar kawasan Sungai Singigi, yang masuk wilayah Kuantan, Riau. Lekaki yang kini berusia 80 tahun itu mengaku berasal dari Desa Lubang Kidul, yang masuk wilayah Kecamatan Boto, Purworejo, Jawa Tengah. Seperti Suratman, pada saat direkrut tentara Jepang bersama 25 warga desanya, ia diiming-imingi jadi anggota heiho alias tentara. Ketika itu, usianya masih sangat muda: baru menginjak 12 tahun. "Saya dilarang pamit kepada orang tua," katanya. Persis seperti cerita Suratman, Turijan dan kawan-kawannya kemudian disatukan dengan ribuan calon romusha di Tanjung Priok. Mereka diberangkatkan ke Teluk Bayur dan langsung pula diangkut dengan kereta ke Muaro Sijunjung. Kerjanya setiap hari adalah menggali bukit hingga membuat terowongan dan menimbun lembah untuk landasan jalur rel kereta api. Ulah tentara Jepang pada waktu itu memang buruk sekali. Para pekerja yang tampak berpangku tangan didera tanpa belas kasihan. Apalagi, penyiksaan itu dipertontonkan di hadapan romusha lain. Tak tahan menerima perlakuan seperti itu dan karena setiap hari dipaksa menyaksikan penyiksaan, bahkan sempat tidak diberi makan, Turijan akhirnya memutuskan kabur. Ia ternyata dapat meloloskan diri. Bersama enam romusha lainnya, ia lari masuk hutan belantara. Ia lepas dari pengawalan ketat tentara Dai Nippon. Selama dalam pelarian, ia mengaku terus dihantui rasa takut. Sebab tentara Jepang terus memburu mereka yang kabur. Ia tidak berani pula muncul ke dusun-dusun yang ada karena khawatir dilaporkan penduduk setempat. Untuk dapat bertahan hidup selama pelarian, ia dan rekan-rekannya memakan apa saja yang ada di hutan, termasuk daun-daunan yang layak makan. Pada saat-saat terakhir menjelang Jepang menyerah, Turijan bersembunyi di wilayah sekitar Logas. Petulangan dalam hutan itu mengantarkan dia sampai ke wilayah Loge, sampai akhirnya tiba di Nagari Paru, Kecamatan Sijunjung. Kemudian ia memilih bermukim di Jorong III, tempat tinggalnya hingga kini bersama anak-anak, menantu, serta cucu-cucunya. Kesaksian Tahanan Perang Menurut kesaksian Suratman, para romusha yang bekerja dalam kelompoknya semua berasal dari Jawa. Ia tidak tahu bahwa Jepang juga mempekerjakan orang bule ketika membangun jalur kereta api, terutama dari arah Pekanbaru, sejak medio 1944. Jumlah mereka lebih dari 5.000 orang. Sebagian besar romusha kulit putih itu terdiri dari para tahanan perang berkebangsaan Belanda. Menurut data yang dikumpulkan George Duffy, sekitar 4.000 tahanan Belanda dipekerjakan sebagai romusha dalam proyek pembangunan jalan kereta api itu. Lalu serdadu Inggris berjumlah sekitar 1.000 orang. Sisanya, 200 serdadu Australia dan 15 tentara Amerika yang dijadikan romusha di jalur Pekanbaru. Jumlah yang tewas sekitar 700 orang. Sebagian besar karena terserang wabah penyakit. Namun kerja paksa seperti dialami Suratman dan Turijan untuk membangun jalur kereta dari Muaro Sijunjung ke Pekanbaru itu jelas bukan isapan jempol. Sejumlah studi yang dilakukan beberapa pakar asing menguatkan cerita kekejaman tersebut. Saking menyeramkan perlakuan tentara Jepang, sampai ada yang menyebutnya sebagai pembangunan jalur kereta api maut menembus hutan belantara. Salah satu rujukan yang menguatkan cerita mereka adalah karya sejarawan Henk Hovinga, The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe 1943-1945. Menurut dia, penelitian mendalam yang dilakukan Pemerintah Belanda menemukan bukti bahwa lebih dari setahun sebelum kedatangan para tahanan itu, terdapat romusha yang mengerjakan pembangunan jalur kereta tersebut yang didatangkan dari Jawa. Sekitar 80% dari mereka hilang, tidak kembali ke kampung halamannya, dan tewas di lokasi kerja. Memang belum ada angka resmi berapa jumlah sesungguhnya romusha yang dikerahkan untuk membangun jalur kereta api sepanjang lebih-kurang 220 kilometer itu. Tapi diperkirakan setidaknya 30.000-50.000 orang yang menggarap penebangan pohon dan meratakan tanah untuk tempat bantalan dan bentangan rel kereta api. Dari jumlah tadi, tidak diketahui benar berapa seungguhnya romusha yang menemu ajal karena dibunuh, mengalami kecelakaan, atau terserang penyakit. Penerapan Strategi Kolonial Sejatinya, jalur kereta itu sudah akan dibangun Pemerintah Belanda di negeri terjajah ini. Badan perkeretaapian milik pemerintah, Staats Spoorwegen, malah sudah membuat peta rencana pembangunannya. Tapi, konon, karena tak ada dananya akibat krisis yang melanda Negeri Belanda, pembangunan jalur kereta itu terpaksa dibatalkan. Jepang yang menemukan dokumen Belanda itu melanjutkan rencana untuk tujuan strategis perang. Ada yang menyebutkan, sekitar 85% jalur yang dibangun Jepang di bawah pengawasan Angkatan Darat ke-25 itu mengikuti rencana induknya. Rute dibangun untuk menghubungkan Padang dengan sisi timur Sumatera, terutama sambungan rel dari pusat batu bara di Sawahlunto ke Pekanbaru. Menurut sejarawan dari Universitas Andalas, Gusti Anan, pembangunan jalur kereta api itu benar-benar diperlukan Jepang. Selama perang berkecamuk, Jepang membutuhkan logistik dalam jumlah sangat besar dan bisa dikirim dalam waktu cepat untuk memenuhi kebutuhan serdadunya. Batu bara dan minyak jarak juga merupakan komoditas amat penting untuk mendukung perang. "Sijunjung di mata Jepang adalah wilayah penghasil batu bara," ujar dia. Gusti Anan bercerita, Jepang secara khusus mengapalkan rel-rel yang dibutuhkan dari Jawa. Batangan rel yang dinilai tak diperlukan lagi kemudian diangkut ke Padang, lalu sebagian diangkut ke kawasan Muaro Sinjunjung. Demikian pula lok dan gerbongnya dibawa dari Medan dan Semarang. "Wajar saja bila rel-rel itu sulit diidentifikasi asal-usulnya," katanya. Untuk mewujudkannya, Jepang menerapkan konsep yang sama dengan pembangunan jalur kereta yang diterapkan di jalur Burma-Thailand. Jalur kereta di "negeri gajah putih" itu selesai dibangun dalam tempo kurang dari dua tahun dan mengerahkan puluhan ribu romusha. Belakangan, kisah memilukan yang melintas tapal batas dua negara itu diangkat ke layar lebar lewat film berjudul The Bridge of River Kwai. Kepiluan yang berlangsung di jalur kereta api Muaro Sijunjung ke Pekanbaru itu tak kalah ketimbang yang tergambar dalam film tadi. Selain itu, romusha boleh dibilang merupakan strategi kolonial yang diterapkan Jepang dengan menempatkan pekerja non-lokal di kawasan yang ia duduki. Tujuannya, untuk mengantisipasi agar mereka tidak kabur. Begitu pula sebaliknya, penduduk lokal direkrut dan dikirimkan untuk bekerja di daerah lain. Mereka dipindahkan ke Bukittinggi, Bangkinang, Padang, atau Pariaman. Dengan begitu, kecil kemungkinan mereka lari secara perseorangan. Siasat lain yang dijalankan Jepang adalah merekrut penduduk setempat untuk dijadikan romusha. Walau berstatus sama dengan mereka yang berasal dari Jawa, tentara Jepang memperlakukan romusha lokal secara lebih baik. "Sikap mereka umumnya lebih manusiawi," katanya lagi. Tragedi Sejarah yang Terlupakan Dalam banyak catatan yang tersebar di internet disebutkan, pembangunan jalur kereta api itu selesai seluruhnya pada 15 Agustus 1945. Lokomotif dan gerbong-gerbongnya belum sempat digunakan untuk tujuan semula: mengangkut batu bara ke Pekanbaru. Walhasil, kereta api itu dipakai untuk membawa para tahanan perang dari kamp-kamp kerja paksa ke Pekanbaru. Setelah itu, sejak September 1945, bentangan rel itu menjadi jalur mati alias tak terpakai sama sekali. Amat disayangkan, kini jejak sejarah kelam romusha itu sebagian besar sudah lenyap. Yang tersisa kini hanya beberapa saksi hidup, seperti Suratman dan Turijan. Sedangkan bukti fisiknya kini tinggal lokomotif yang dijadikan monumen sejarah: satu di Silokek dan satu lagi di Pekanbaru. Jalur rel kereta yang dibangun dengan keringat dan darah para romusha telah lenyap. Batangan relnya yang memanjang sejauh 220 kilometer menguap entah ke mana. Ini semua membuat tragedi sejarah yang membentang dari Muaro Sijunjung hingga Pekanbaru seakan ikut terlupakan. Yang lebih menyedihkan adalah kesan yang diguratkan penulis Belanda, Rudy Kousbroek, yang pernah datang ke monumen bersejarah di Pekanbaru. Ketika ia datang, tak seorang pun warga setempat yang tahu asal-usul lokomotif yang ada di tengah-tengah mereka. "Andaikan tak ada bekas tahanan perang Eropa yang datang dan menyadarkan, boleh jadi tidak seorang pun dari mereka mengenang drama yang terlupakan ini," tulis dia. Erwin Y. Salim, dan Joni Aswira Putra (Sijunjung) Saksi Bisu yang Merana Sekilas, lokomotif uap yang teronggok di sisi kiri salah satu ruas jalan Jorong Silukah itu tampak seperti besi rongsokan. Yang tersisa tinggal bagian kepala dan ruang pembakarannya, sedangkan ruang masinisnya telah lenyap sama sekali. Dari yang ada, beberapa bagiannya pun sudah termakan karat. Kalaulah tak ada papan peringatan di dekatnya, boleh jadi tidak ada yang menyangka, loko uap itu menyimpan seribu misteri tentang romusha dan kekejaman tentara Jepang di masa silam. Dari warna hijau yang samar terlihat, loko itu tampaknya kendaraan angkut militer. "Saya menduga, jalur kereta api Muaro Sijunjung ke Pekanbaru ini juga digunakan untuk mengangkut senjata," ujar Paldi Muhendra. Lelaki yang kerap disapa Mak Pado ini boleh dibilang sosok yang paling gigih menjaga keberadaan benda bersejarah itu. Berawal dari kabar yang beredar di kalangan penduduk soal loko yang ditemukan warga ketika bergotong royong membangun jalan pada 1980-an. "Sekitar tahun 1990, saya sering memancing di sana. Pada saat itulah saya diberitahu tentang penemuan mereka," katanya. Awalnya, ia tidak percaya. Bagaimana ceritanya ada lokomotif terkubur di tanah Silokek. Jalur rel keretanya tidak ada. Tapi, karena penasaran, ia lantas menelusuri kebenarannya. Bersama beberapa kawannya sesama penggiat teater, ia mendatangi lokasi itu untuk mengecek kondisi benda kuno tersebut. "Ternyata cerita warga benar. Lokomotif itu terkubur di kedalaman hingga dua meter. Yang kelihatan baru kepalanya saja," ujar Kepala Seksi Budaya di Dinas Pariwisata, Seni, Budaya, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten (Parsenibudpora) Sijunjung itu. Sejak membuktikan penemuan itu, Paldi mulai proaktif. Ia khawatir, benda bersejarah itu hancur atau diganggu tangan-tangan jail. Ia pun berusaha meyakinkan pemerintah daerah untuk mengangkat dan melindungi benda tadi. "Gagasan saya dianggap gila, kayak tidak ada pekerjaan lain mengangkat baja seberat itu," katanya, disusul derai tawa. Gagasannya baru mulai terwujud pada tahun 2000. Pemerintah daerah mulai memberi perhatian. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar pun mulai mengkaji keberadaan loko itu lima tahun kemudian, bekerja sama dengan Dinas Parsenibudpora Sijunjung. Selang setahun, Pemda Sijunjung menggelontorkan dana Rp 45 juta untuk biaya pengangkatan loko itu, sekaligus pembuatan landasannya. Setelah terangkat, sempat muncul perdebatan soal penempatan. Ada rencana menempatkan loko tua itu sebagai monumen di simpang Logas, yang berjarak sekitar 17 kilometer dari lokasi penemuan. Rencana lain, menjadikannya sebagai monumen di lokasi penemuan. "Walhasil, benda itu tidak dipindahkan, mengingat aspek sejarah dan faktor besarnya biaya jika dipindahkan ke Simpang Logas," katanya lagi. Rupanya, cerita penemuan loko itu mengawali perjumpaannya dengan Suratman, mantan romusha saksi sejarah pembangunan jalur kereta api di kawasan itu. Setiap kali singgah di Silokek, ia kerap berpapasan dengan lelaki gaek tadi. Ia curiga, raut mukanya tidak memperlihatkan wajah orang asli Silokek. Selidik punya selidik, ternyata benar. Pak Suratman adalah orang Jawa yang pada zaman Jepang dipaksa bekerja di situ. Klop. Dari perbincangan dengan lelaki tua asal Desa Somogede, Wonosobo, itu, Mak Pado bisa merangkai cerita tentang keberadaan loko uap tadi. Benar, rupanya Silokek pernah dilewati rel kereta api yang menghubungkan Muara Sijunjung dengan Pekanbaru. "Sayang, seluruh relnya sudah musnah," kata Pado. Menurut kabar yang beredar, pengangkatan rel itu diborongkan kepada pengusaha dari Jakarta pada 1970-an. Loko berukuran panjang 8,83 meter, lebar 2,35 meter, dan tinggi 2,94 meter itu kini berdiri di atas landasan beton tanpa rel. Saksi bisu kekejaman Jepang itu tampak masih agak merana, walau sudah ada atap seng yang melindunginya dari sengatan sinar matahari dan terpaan hujan. Seluruh tubuhnya bisa kian termakan karat karena tak dilapisi pelindung. Pampasan Perang untuk Rakyat Ada satu harapan yang sangat didambakan Suratman, seorang dari sekian banyak mantan romusha di negeri ini. Tidak seperti kasus para jugun ianfu, yang biasa disebut perempuan penghibur, ia merasa hak-hak para romusha pun pantas diusahakan. "Saya mohon perhatian dari pemerintah, tolong perjuangkan hak-hak kami juga," ujarnya lirih sesaat sebelum kami berpisah. Entah berkaitan entah tidak dengan harapan Suratman, sekitar 50 tahun silam, Pemerintah Jepang meneken kesepakatan untuk membayar pampasan perang kepada Indonesia. Ada beberapa poin penting yang tertuang dalam perjanjian itu. Jepang bersedia membayar pampasan senilai US$ 223,080 juta dalam jangka 20 tahun, di samping membatalkan tagihannya kepada Indonesia senilai US$ 117 juta. Selain itu, pemerintah Tokyo mengusahakan pinjaman jangka panjang US$ 400 juta. Dalam butir kedua catatan tambahan pelaksanaan persetujuan pampasan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1958 itu, ada hal yang menarik disimak. Disebutkan, pemerintah mengakui tekanan penderitaan yang merata pada seluruh bangsa Indonesia selama pendudukan Jepang. Lalu, dikatakan pula, hasil pampasan perang dan kerja sama ekonomi itu bukan merupakan penggantian yang diderita rakyat secara terperinci. Yang terakhir menyebutkan, hasil pampasan perang dan kerja sama ekonomi digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan kehidupan seluruh rakyat Indonesia secara merata. Realisasinya kemudian, sebagian hasil pampasan tadi dimanfaatkan untuk membangun sejumlah proyek. Yang paling terkenal adalah pembangunan Hotel Indonesia di Jakarta, Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, dan Hotel Bali Beach di Bali. Bangunan lain yang menjadi saksi bisu hasil pampasan perang juga berlokasi di Jakarta, yakni Toserba Sarinah. Di Sumatera, tercatat beberapa proyek yang dibangun dengan dana pampasan perang itu. Sebut saja Jembatan Ampera di Palembang, yang selesai dibangun pada 1965 dengan biaya US$ 11,72 juta. Sedangkan di Jawa Timur, tercatat pembangunan terowongan pengendali air di Tulungagung, yang selesai dibangun pada 1961 dengan biaya US$ 1,97 juta. Masih banyak lagi proyek lain yang dibiayai dengan hasil pampasan perang. Diperkirakan ada sekitar 36 proyek. Tapi, pertanyaannya, apakah kemanfaatan seluruh proyek itu kemudian menyentuh kepentingan para korban kekejaman tentara Jepang dalam masa pendudukan? Tampaknya harapan yang lama terpendam dalam dada Suratman akan tetap terkubur selamanya. source : Gatra : 52 / XVII 9 Nov 2011 http://wap.gatra.com/majalah/artikel.php?pil=23&id=150447 RantauNet, Tuesday, November 15, 2011 3:55 PM



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Saturday, July 14, 2012

Website Nagari Sumpur Kudus

Assalamualaikum wr wb.

Angku, mamak, bundo sarato dunsanak sapalanta dimano sajo barado nan ambo hormati,

Sambia taruih melakukan pelatihan & pengumpulan data untuak dokumentasi website nagari Sumpur Kudus nan sadang kito lakukan di Kanagarian Sumpu Kudus, ambo seperti biaso kutiko melakukan pendampingan selalu bajalan bakuliliang subalik nagari di Sumpur Kudus nan ko. Perlu diketahui Kanagarian Sumpur Kudus nan ko babeda jo Kec. Sumpur Kudus. Kecamatan Sumpur kalau kito caliak dari pembagian wilayahnyo, terdiri 3 wilayah nan terpisah dek sabab kontur tofografi perbukitan nan mambuek 11 pemerintahan nagari dengan 8 Kanagarian dipisahkan oleh perbukitan nan cukuik terjal. 3 Wilayah mantun adolah sebagai berikut :


1. Nagari Kumanih, Nagari Tanjuang Bonai Aua & Nagari Tanjuang Bonai Aua Selatan.
Merupakan pusat pemerintahan kecamatan Sumpur Kudus nan talatak di Nagari Kumanih. Di Nagari Kumanih nan ko pulo tadapek pasa sarikat 8 Kanagarian nan hari balainyo adolah hari Salasa. Sajak saisuak, penduduk di 8 Kanagarian selalu ramai mengunjungi pasa sarikat nan ko. Wilayahnyo basubalahan jo nagari-nagari di kec. Lintau Buo, yaitu Nagari Taluak & Nagari Tigo Jangko. Lokasi kaduo nagari nan ko indak jauah dari jalan lintas Muaro Sijunjuang - Pikumbuah, sekitar 3 km & 7 km. Kanagarian Kumanih jo Kanagarian Tanjuang Bonai Aua wilayahnyo dipisahkan oleh batang Sinama (Sinamar) nan bahulu di Koto Tinggi daerah mudiak luhak 50 Koto.

2. Nagari Tamparugo, Nagari Tanjuang Labuah & Nagari Sisawah
Diwilayah nan ko terdapat 2 Kanagarian, dimano nagari Tanjuang Labuah adolah pemekaran dari Nagari Tamparungo.Kaduo pemerintahan nagari nan ko adolah 1 kanagarian yaitu Kanagarian Tamparungo. Jarak antaro Kanagarian Sisawah jo Kanagarian Tamparngo + 7 km. Diwilayah nan ko banyak terdapat bukik karang nan kalau dicaliak sacaro geologis adolah perbukitan kapur & marmer. Di wilayah iko bisa dijumpoi banyak ngalau-ngalau saroman nagari Silokek Kec. Sijunjuang. Jarak dari Tamparungo ka Kumanih sekitar + 12 km.

3. Nagari Unggan, Nagari Silantai, Nagari Sumpur Kudus, Nagari Sumpur Kudus Selatan & Nagari Mangganti.
Wilayah di nagari-nagari nan ko dipisahkan oleh bukik Lontiak dengan wilayah Kanagarian Tamparungo & Kanagarian Sisawah. Jenis tanah di bukik Lontiak marupokan perbukitan tanah potsolit merah kuning (PMK) dengan campuran pasir. Pado lapisan nan bacampua jo kasiak nan ko acok menyebabkan lereng di perbukitan nan ko tamban/longsor. Jaraknyo dari Kumanih + 30 km. Jarak dari Unggan ka Sumpur Kudus sekitar 7 km, baitu pulo jarak antaro Sumpur Kudus dengan Mangganti sekitar 7 km pulo.

http://peta.sijunjung.go.id/

Umumnyo masyarakat di Sijunjuang memiliki matapencaharian 2 macam, yaitu bacocok tanam padi & baladang varietas karet/gatah (Havea Brazillensis). Penamaman karet alah dilakukan sajak maso kolonial Bulando. Dimano dari penuturan urang-urang tuo disiko bibit tanaman diperoleh dari wilayah Lintau.Oleh karano itu, pabilo kito bakunjuang ka Sumpur Kudus, sajauah mato mamandang akan dapek dicaliak hamparan sawah didataran & tanaman karet diwilayah perbukitan.

Pado sisi barat perkampungan dipisahkan oleh perbukitan nan dibaliaknyo tadapek rimbo gadang nan disabuik dengan namo Rimbo Lisun. Rimbo Lisun nan ko wilayahnyo sangaik laweh & memanjang dari wilayah Unggan sampai ka hilia di Mangganti taruih ka Nagari Durian Gadang Kec. Sijunjuang & Nagari Padang Tarok di Kec. Kamang Baru. Rimbo Lisun nan ko berbatasan lansuang jo wilayah Provinsi Riau nan wilayah adminitrasinyo adolah Kabupaten Kuantan Sengigi (pusat pemerintahan di Taluak Kuantan). Dek Karano tofografi perbukitan nan terjal, sampai kini akses jalan ka Rimbo Lisun hanyolah jalan setapak. Dari informasi nan diperoleh niniak mamak Kanagarian Sumpur Kudus, dalam 3 bulan terakhir ditamui pemukiman urang Kubu di Rimbo Lisun nan acok turun ka Mangganti untuak manjua hasil hutannyo. Pemkab. Sijunjuang & Pemprov Sumbar kini sadang maansua-ansua akses jalan ka Rimbo Lisun dengan mambuek wilayah transmigrasi di perbatasan nagari Padang Tarok Kec. Kamang Baru & dalam perencanaanyo akan membangun jembatan di batang Kuantan untuak pemukiman transmugrasi nan ko.

Dari hasil pengamatan nan alah dilakukan, kebetulan kami alah ka Sumpur Kudus sabanyak 7 kali dalam satahun terahir, mandapek kesimpulan bahasonyo matapencaharian masyarakat di Sumpur Kudus dapek ditingkekan. Hal iko mancaliak dari nan alah kito sigi sacaro labiah teliti dilapangan. Sabab, saindak-indaknyo, masyarakat di nagari nan frofesinyo adolah petani harus memiliki paliang tidak 4 sumber penghasilan. Nan ado kini hanyo bersumber dari padi sawah & tanaman karet sajo. Hasil bercocok tanam dari padi sawah hanyo dipakai untuak kebutuhan sendiri, sabab produktivitas tanaman padi disiko agak randah, sekitar 2-3 to per hektar. Hal iko disababkan jenis tanah nan bukan termasuk tanah vulkanik saroman di Sungai Tarab, Pariangan, Batipuah X Koto, Agam Tuo, Salingka danau Maninjau, Solok, Alahan Panjang ataupun di Talu Sinuruik.

Hasil tanaman karet marupokan tulang punggung pendapatan masyarakat nagari disiko. Dimano hasil ladang karet nan ko nan samato-mato menjadi penghasilan tetap masyarakat nagari. Kisaran harago karet kini sekitar Rp. 8.500 - Rp 9.000 per kg. Samanjak tsunami Japan tahun lalu, harago karet dunia memang jatuah dari harago Rp. 20.000 per kg. Aktifitas baladang karet nan ko setelah kito amati indak memakan wakatu sahari panuah. Masyarakat nagari mulai pai ka ladang sajak salasai shalat Shubuah, nan salasai pado pukua 11.00 wib. Setelah ba'da Zhuhur kegiatan masyarakat nagari dilanjuikan pado mengelola ternak. Ternak nan umum disiko adolah jawi/sapi & kabau. Selain itu, kaum ibu juo melakukan kegiatan penenunan kain songket Unggan sarato bordir. Untuak kain songket hasilnyo dibali lansuang oleh pemkab Sijunjuang untuak kebutuhan pakaian dinas. Sadangkan untuak bordir alah ado pulo pedagang-pedagan nan babaliak ka nagari untuak mangumpuakannyo.

Setelah kito inok manuangi, potensi nan bisa dikambangkan adolah sektor peternakan. Yaitu penggemukan sapi & peternakan ayam petelur. di 5 nagari/4 Kanagarian nan ko jumlah penduduknyo sekitar 18.000 jiwa. Sampai kini talua-talua ayam nan masuak ka nagari barasa dari Pikumbuah. Dijua dengan harago saketek labiah maha sabab biaya transportnyo iyo agak gadang dek termasuk wilayah pelosok pulo. Mungkin ado dari angku, mamak. bundo sarato dunsanak nan tertarik mambuek usaho peternakan ayam petelur di Sumpur Kudus. Hal iko alah kito bicarakan dengan pemerintahan nagari. Alhamdulillah disambuik baiak oleh masyarakat disiko. Mengenai lahan, bahan baku kandang saroman kayu jo batuang/bambu tasadio di nagari. Tinggga mausahokan atok jo kawek sarato bibit ayam petelur & pakannyo. Untuak tenaga kerja banyak nan tasadio di nagari. Umumnyo di Mudiak 50 Koto nan marupokan sentra penghasil telur di Sumbar, satiok pekerja dibayia jo upah Rp. 2.000.000/bulan + sakaruang bareh. Pabilo ado nan berminat silahkan hubungi LPM Marapalam & akan kito bantu untuak mampasamokannyo jo pemerintahan nagari basarato KAN Sumpur Kudus.

Selain itu, kami juo berencana untuak mambuek usaho penggemukan & indukan sapi Simmental di nagari Sumpur Kudus. Jam karajo petani karet disiko nan hanyo satangah hari (dari jam 06.00 wib - 11.00 wib) bisa labiah diberdayakan untuak usaho penggemukan & indukan sapi. Selain itu, pado ladang-ladang karet rakyat nan ado bisa dilakukan penanaman rumput untuak pakan ternak. Pado wilayah nan agak data bisa dijadikan padang pengembalaan & pado nan labiah miriang akan dilakukan dengan caro manyabit.

Manuruik penutura masyarakat di Sumpur Kudus, sistem mampaduokan jawi di nagari nan ko pembagiannyo adolah 50% - 50%. Sebagai contoh, anakan jawi dibali dengan harago 8 juta di pasa taranak nagari Palangki. Setelah dilakukan penggemukan salamo 1 tahun bisa dijua saharago 16 jt. Hasil barasiah mantun nan akan dibagi manjadi 50% - 50%. Sadangkan nan mamaliharo jawi untuak indukan, setiap lahia anak, setelah lapeh susu (6 bulan) nilainyo akan dipatuik, dari nilai mantun akan dibagi satangah untuak petani nan maurus jawi & satangah lai adolah hak dari pemilik jawi. Anakan jawi nan lahia bisa dijua pabilo jantan & nan batino bisa digadangkan taruih untuak dijadikan indukan.

Untuak pembuatan kandang, bahan-bahan ditangguang pemilik jawi, sadang pekerja dilakukan oleh petani. Dek karano kito di LPM Marapalam dianjurkan babuek daripado hanyo marancang-rancang sajo, insya Allah ambo akan sato dalam usaho penggemukan nan ko, paliang indak saikua jawi dek pitih ambo indak pulo ado bana.

Mungkin kapado angku, mamak, bundo sarato dunsanak ado nan ka ikuik? Silahkan hubungi LPM Marapalam insya Allah akan kito buek kandang basamo & dibuek pulo perjanjian tertulisnyo jo petani, pemerintahan nagari sarato niniak mamak Kanagarian Sumpur Kudus.

Mungkin itu sajo nan bisa ambo sampaikan, mano tahu ado dari kito di palanta nan ko nan akan ikuik sato. Email nan ko ambo cc kan pulo ka inisiator LPM Marapalam, yaitu pak Saafroedin Bahar, mak Dutamardin Umar, mak doto Hilman Mahyudin, pak Abraham Ilyas, mak Darwin Chalidi & pak doto Rahyussalim.

wasalam

AZ/lk/34th/caniago
Sumpur Kudus - Sijunjung

asa nagari Kubang, 50 Koto
babako ka Canduang Koto Laweh, Agam

http://lpmmarapalam.wordpress.com/
http://armenzulkarnain.wordpress.com/




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Top Stories

Supported by

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
FOR RENT : This running text is ready for rent. For inquiries please email soon to : reservation@rockyplazahotelpadang.com or 165mazri@gmail.com